Kebangkitan Ekonomi Desa: Transformasi Sukses BUMDesma Nabiya Lkd Cetak Aset Belasan Miliar
SUKABUMI – BUMDesma Nagrak Bina Berdaya Lkd (dengan nama dagang NABIYA) telah membuktikan perannya sebagai motor penggerak kebangkitan ekonomi desa. Resmi didirikan pada 22 November 2022, lembaga ini merupakan hasil transformasi dari UPK ex PNPM MP yang telah beroperasi sejak tahun 2008.
Berawal dari modal awal UPK yang hanya sebesar Rp 380 juta, BUMDesma ini kini mengelola permodalan yang masif. Tercatat, terdapat penyertaan modal desa sebesar Rp 1,151 miliar yang berasal dari 10 desa, serta modal masyarakat yang mencapai Rp 10,2 miliar. Kondisi ini tidak terlepas dari Pembinaan yang berikan oleh Dinas PMD Kab. Sukabumi, BKAD (Ex PNPM), Kepala Desa dan semua pihak yang ada di dalamnya.
Legalitas Kuat dan Pertumbuhan Signifikan
Setelah proses transformasi, BUMDesma Nabiya kini memiliki badan hukum yang setara dengan Perseroan Terbatas (PT), CV, maupun Koperasi. Lembaga ini juga telah mengantongi izin usaha yang jelas dan terdaftar resmi di Online Single Submission (OSS). Legalitas yang kuat ini secara langsung meningkatkan daya jual BUMDes, membuka peluang usaha yang semakin luas di berbagai sektor, dan memudahkan kerja sama kemitraan.
Keberhasilan ini tidak terlepas dari jajaran kepengurusan yang bersih dari unsur politik maupun kepentingan kelompok. Pengelolaan yang profesional mampu menumbuhkan kepercayaan dari Pemerintah Desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), dan pemangku kepentingan lainnya. Hingga data proyeksi Desember 2025, aset BUMDesma Nabiya tercatat mencapai Rp 17,3 miliar, yang terdiri dari aset lancar sebesar Rp 15,3 miliar dan aset tetap Rp 2,0 miliar. Sementara itu, omzet pendapatan kotor mencapai angka Rp 2,7 miliar.
Sumber pendapatan terbesar masih didominasi oleh sektor simpan pinjam sebesar Rp 2,2 miliar. Namun, sektor lain juga menunjukkan kontribusi positif, seperti kerja sama kemitraan (Rp 263 juta), distribusi pangan pokok (Rp 137 juta), dan investasi deposito (Rp 134 juta).
Pemberdayaan Masyarakat dan Inovasi Digital
Kehadiran BUMDesma Nabiya tidak hanya menguntungkan secara finansial bagi lembaga, tetapi juga berdampak langsung bagi masyarakat sekitar karena usaha yang dijalankan sangat menjawab kebutuhan warga. Saat ini, BUMDesma telah menyerap 25 orang tenaga kerja (kru BUMDesma) dan membina 266 kelompok nasabah atau UMKM yang mencakup sekitar 3.000 jiwa. Dari sisi kontribusi terhadap desa, BUMDesma mampu menyumbang Pendapatan Asli Desa (PADes) sebesar Rp 72 juta pada tahun 2025, serta menyalurkan Dana Sosial Langsung setiap tahunnya.
Untuk memperkuat perannya, BUMDesma Nabiya melakukan berbagai langkah strategis, salah satunya adalah transformasi digital. Mereka membuka marketplace untuk memasarkan produk UMKM, melayani transaksi digital (seperti EDC, QRIS, Kopra by Mandiri, dan Agen BJB), serta aktif berpromosi di media sosial.
Selain itu, kemitraan strategis terus dibangun. BUMDesma bermitra dengan Dinas Ketahanan Pangan (DKP), Bulog, dan Bapanas untuk menjadi Kios Pangan yang mendistribusikan beras, jagung hibrida, dan gabah. Prinsip utama yang dipegang adalah BUMDesma hadir sebagai pemasok bagi Kios Pangan/Warung Sembako, bukan sebagai pesaing, sehingga ekosistem ekonomi desa dapat terbangun dengan sehat.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski mencatatkan banyak kesuksesan, BUMDesma masih menghadapi kendala multi-dimensi untuk menjadi motor penggerak ekonomi secara maksimal. Terdapat empat kendala utama:
- Kualitas SDM dan Manajemen: Kurangnya kompetensi, pengelolaan yang belum sepenuhnya profesional, dan inovasi yang masih rendah.
- Permodalan dan Keuangan: Ketergantungan pada dana desa, kesulitan akses permodalan eksternal, dan manajemen keuangan yang masih perlu diperkuat.
- Operasional Pemasaran: Pemasaran yang masih terbatas, infrastruktur yang kurang memadai, dan risiko salah memilih jenis usaha.
- Sosial dan Institusional: Rendahnya partisipasi masyarakat, adanya kerancuan posisi, dan intervensi dari pemerintah desa.
Untuk mengatasi hal tersebut, BUMDesma sangat mengharapkan dukungan komprehensif dari pemerintah terkait legalitas, permodalan, peningkatan SDM, teknologi, dan pencarian akses pasar dengan harga terbaik. Pengelola juga menyoroti perlunya konsistensi program, mengingat adanya kekhawatiran bahwa fokus pemerintah yang mulai beralih ke Koperasi Desa Merah Putih berpotensi mengambil alih atau bersinggungan dengan peran BUM Desa yang sudah berjalan.
Sebagai pesan penutup, Kepala Pengelola BUMDesma menekankan bahwa untuk mengelola BUM Desa, sumber daya manusia harus memiliki pola pikir (mindset) sebagai seorang wirausahawan, bukan sebagai karyawan.
"Jangan pernah berhenti berinovasi, berani memulai bisnis sebagai wadah belajar, dan terus bangun jaringan dengan berbagai lembaga untuk kemitraan yang lebih besar, karena menjadi pebisnis itu tidak ada sekolahnya melainkan belajar dari pengalaman," pesan pihak pengelola BUMDesma Nabiya
TIM DEE Nabiya Lkd (Red)